oleh

Seseorang yang Berisiko 8unuh Diri

Kasus kematian akibat bunuh diri paling banyak terjadi pada usia lanjut (60 tahun ke atas). Meskipun begitu, ditemukan jumlah kasus yang relatif tinggi pada kelompok umur 20-29 tahun, melebihi kelompok umur 30-39 tahun, 40-49 tahun, dan 50-59 tahun.

Sebelum seseorang melakukan percobaan bunuh diri, seringkali didahului oleh adanya ide bunuh diri hingga perencanaan terstruktur seperti kapan, dimana, dan dengan cara apa seseorang akan melakukan percobaannya. Berikut beberapa faktor risiko yang merujuk pada perilaku bunuh diri :

hipnoterapi online

1. Percobaan Terdahulu

Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan sebelumnya diasosiasikan dengan pengulangan perilaku. Disebutkan setidaknya sekitar 50% korban bunuh diri telah melakukan percobaan sebelumnya sebanyak minimal 1 kali.

2. Penyalahgunaan Alkohol atau Obat-obatan

Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang diasosiasikan pada perilaku impulsif. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk perilaku untuk mengurangi rasa beban dan stress yang dapat berakibat pada ancaman bunuh diri.

3. Akses Peralatan Berbahaya

Kemudahan akses pada benda tajam dan senjata api dapat meningkatkan faktor resiko seseorang untuk melakukan bunuh diri. Maka dari itu, diperlukan pengawasan yang ketat, terutama kepada mereka yang pernah terdiagnosa depresi agar dijauhkan dari benda-benda berbahaya.

4. Gangguan Mental

Mengakhiri hidup kerap menjadi pilihan terakhir bagi seseorang yang mengalami gangguan mental seperti depresi, gangguan makan, skizofrenia, dan gangguan kecemasan. Gangguan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan kerap dikaitkan dengan adanya distorsi kognitif. Distorsi kognitif muncul dalam bentuk kesalahan cara berpikir yang cenderung berlebihan dan tidak rasional seperti “masalah ini akan selesai apabila saya menghilang dari muka bumi” atau “apabila saya mati pun, tidak akan ada yang berduka pada saya”.

5. Meninggalnya Keluarga/Kerabat Akibat Bunuh Diri

Fenomena ini disebut dengan suicide contagionSuicide contagion diawali dengan adanya paparan seseorang pada sebuah perilaku bunuh diri atau disebut juga Exposure to Suicidal Behavior (ESB).

6. Orientasi Seksual

Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa seseorang yang homoseksual memiliki tingkat ideasi percobaan bunuh diri lebih tinggi daripada yang heteroseksual. Hal ini disebabkan karena mereka dengan orientasi homoseksual mendapatkan penolakan dan diskriminasi yang lebih kuat dari publik. Penolakan dan diskriminasi tersebut kemudian diinternalisasi sehingga menjadikan mereka dengan orientasi homoseksual rentan mengalami gangguan mental yang kemudian beresiko pada perilaku bunuh diri.

 

Stigmatisasi yang masih berkembang mengenai tabunya gangguan kesehatan mental, membuat banyak lapisan masyarakat yang membutuhkan bantuan profesional ragu dan malu untuk mencari bantuan. Jika anda atau orang terdekat mengalami gangguan kepribadian, segeralah berkonsultasi dengan psikolog atau terapis untuk mendapatkan solusi dengan tepat. Anda bisa membuat janji dengan terapis di www.hipnoterapi.id  jika terkendala jarak dan waktu, anda juga bisa mengikuti sesi terapi secara online jarak jauh, untuk informasi lebih lanjut anda dapat menghubungi WhatsApp berikut https://wa.me/message/4MZ2JVSFY74JH1 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : pijarpsikologi dot org

konsultasi hipnoterapi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed